/
4 Comments


Identitas buku

Judul : Berumah dalam Sastra 3

Penulis : Tengsoe Tjahjono

Penerbit : Tankali, Sidoarjo

Tahun terbit : 2020

Jumlah halaman : vii + 135

 

SASTRA 3 HADIR DI TENGAH DUNIA SERBA CEPAT

 

Buku ini dibagi menjadi lima bab; Pintu Depan, Bilik Pentigraf, Bilik Tatika, Bilik Putiba, dan Bilik Putibar. Tengsoe dalam penulisannya menggunakan bentuk tanya jawab. Sehingga dalam setiap bab diawali dengan sebuah pertanyaan. Seperti bab pertama dibuka dengan pertanyaan, "Mengapa 3?"

Pada bab pertama tersebut, Tengsoe memberikan gambaran secara gamblang kajian seputar angka 3 di mana angka tersebut sering terdengar di telinga kita. Dimulai dari kajian kelas dalam bermasyarakat. Kelas ketiga disebut sebagai kelas miskin demikian pula negara dunia ketiga dikarakan sebagai negara terbelakang.

Akan tetapi bukan berarti angka 3 sebagai indikator tidak baik (nilai minus). Lebih lanjut Tengsoe mengkaji penggunaan angka 3 dari latar agama-agama di Indonesia. Termasuk kajian linguistik bahasa Jawa di mana ada tiga bilangan yang mana sebutannya tidak linear dengan bilangan sebelumnya yaitu 25, 50, dan 60. Secara berurut ketiga disebut selawe, seket, dan sewidak. Seharusnya jika linear maka disebut dengan lima likur, limang puluh, dan enem puluh. Terus terang saya sebagai orang Jawa baru mengetahui rahasianya dari buku ini.

Dari kajian tersebut, Tengsoe menganggap angka 3 merupakan angka yang hidup dalam tradisi masyarakat. Dari sinilah kemudian lahir "Sastra 3". Sastra 3 merupakan sastra dengan format serba tiga yaitu pentigraf (cerpen tiga paragraf), tatika (cerita tiga kalimat, putiba (puisi tiga bait, dan putibar (puisi tiga baris).

Pada bab pertama dijelaskan beberapa hal. Sumber penulisan termasuk dibahas di dalamnya. Tidak ketinggalan bagaimana sebuah realita anyar dibuat dari sebuah realita. Akan tetapi sebuah karya sastra harus tetap logis. Sastra itu dibuat, tetapi tidak dibuat-buat. Direka, tetapi bukan direka-reka. (hal. 47).

Pembahasan pentigraf dimulai dari mekanisme pembuatannya di antaranya jumlah kata tidak melebih 210 kata dan hanya ada satu kalimat langsung pada setiap paragraf. Dibolehkan jika dalam bentuk narasi semua (hal. 72). Pembatasan jumlah paragraph yang hanya tiga ini diharapkan tidak dipaksakan. Artinya ada temuan sebuah paragraf tetapi berisi lebih dari satu ide pokok.

Begitu pula pembahasan tentang kejutan atau ketakterdugaan dalam pentigraf yang mana merupakan daya Tarik sebuah pentigraf (hal. 62). Pada bab ini, Tengsoe memberikan tujuh panduan bagaimana membuat kejutan tersebut. Seperti biasa, Tengsoe memberikan contoh sebuah pentigraf dari anggota pentigrafis dengan uraian penjelasan nilai kejutan tersebut. Kejutan tersebut bukan sekedar “TERNYATA”, akan tetapi juga memperhatikan bahwa ketakterdugaan itu bisa memutarbalikkan keadaan yang dialami oleh tokoh, baik ke yang baik atau buruk (hal. 64). Hal ini membuat pembaca terkecoh di awal.

Pada bab berikutnya dibahas tentang Tatika yaitu cerita tiga kalimat. Tidak jauh berbeda dengan pentigraf. Seperti dalam penggunaan kalimat langsung yang hanya dibolehkan satu saja (hal. 89). Meski hanya tiga kalimat, tatika tetap harus memiliki elemen cerita yang mencakup tokoh, alur dan tema yang saling berhubungan.

Dalam pembahasan Putiba (puisi tiga bait) dan Putibar (puisi tiga baris), Tengsoe memberikan pesan bahwa puisi tetap harus ada ide gagasan. Gagasan tersebut kemudian disampaikan dengan balutan kata yang diolah dengan rasa. Puisi bukan hanya bercerita tentang perasaan (hal. 102).

Buku ini penting untuk dimiliki dan tentunya dibaca bagi orang yang ingin belajar maupun mengembangkan kemampuan menulis sastra. Di samping itu, buku ini hadir untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar sastra 3, utamanya pentigraf dan tatika di media online di mana konsep yang diterapkan tidak sama antar karya beberapa penulis. Hal ini menyebabkan pembaca kebingungan (hal. v). Termasuk saya di awal pertama kali mengenal pentigraf.

 

Gresik, 28.12.2022


 

You may also like

Identitas buku Judul : Berumah dalam Sastra 3 Penulis : Tengsoe Tjahjono Penerbit : Tankali, Sidoarjo Tahun terbit : 2020 Jumlah h...

4 komentar: