/
0 Comments

 

Teman literasi menyebut karyanya ini sebagai pentigraf, tapi ketika dibaca dengan teliti tulisan tersebut seperti sebuah catatan. Oleh karenanya saya mencoba menyuntingnya menjadi sebuah pentigraf.

Terima kasih sudah membaca dan memberikan komentarnya


IBUKU TIDAK SAKIT LAGI

Oleh : Wyda Asmaningaju


Namanya Jihan Aulia siswa kelas 7B di SMPN  Surabaya. Sebagai siswa baru harusnya dia rajin seperti teman-temannya yang lain. Tapi hal itu tidak dilakukan Jihan. Setiap ditanya kenapa tidak masuk jawabannya hanya buliran air mata saja. 


Dari berbagai survey yang dilakukan guru BK dan wali kelas dibalik sering tidak masuknya karena dia menghabiskan waktu untuk merawat dan menyiapkan kebutuhan ibunya yang sakit (kakinya Kanan diamputasi karena diabet dan kaki satunya mati rasa). Dia anak kedua yg mempunyai kakak laki-laki putus sekolah Karena tidak mampu bayar Karena sekolahnya swasta. Sesuai pengakuannya, ayahnya sudah mulai tidak menyukai ibunya dan sekarang dalam proses perceraian. Dia sekolah kalau ada tantenya yang beda rumah mampir dan mau mengantar. Maka tidak jarang dia bolos sekolah. Melihat pemandangan itu, Kami para guru berdiskusi dan membuat keputusan untuk meminjamkan sepeda pancal baru supaya untuk mempermudah Jihan melangkahkan kaki menuntut ilmu. 


Pagi itu ayah Jihan datang ke sekolah memenuhi undangan Kami terkait peminjaman sepeda tersebut. Dengan sombongnya dia berkilah "Saya ini barusan kerja bu dari PT ... langsung ke sini jauh-jauh". Padahal sebelum ayahnya saya panggil sesuai keterangan Jihan, ayahnya di rumah dan tidak bekerja. Pantesan setelah ditelpon beberapa menit langsung datang. Rasanya gemes menyaksikan pemandangan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti itu. tidak lama ibunya telpon saya menanyakan PAS dan berterima kasih atas peminjaman sepeda.

Kami sedikit lega bisa membantu sedikit kesulitan anak didik kami. Selang 2 hari Jihan yang masih mengerjakan ulangan dikagetkan oleh suara telpon dari tantenya yang mengabarkan bahwa ibunya meninggal setelah beberapa saat kritis. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. 



#belajar berpentigraf#

#salam literasi#


Saya sunting menjadi karya berikut...


JANGAN....!


Hujan mulai reda ketika ada suara mengetuk pintu rumahnya. Juni segera membukakan. Ternyata sosok di depannya adalah bu guru wali kelasnya dan guru BK. "Nak Juni, sekolah meminjami kamu sepeda biar kamu bisa tetap masuk sekolah," kata guru wali kelasnya. Juni pun merangkul bu gurunya sambil terisak.


Pagi itu gaduh. Juni mengumpat-umpat ayahnya yang akan memutuskan cerai dengan ibunya hari ini. Padahal ibunya sedang butuh perawatan lukanya yang disebabkan diabet. "Aku tidak masuk sekolah dulu, Ma!" Bisik Juni sambil merangkul. Tetapi ibunya mendorong tetap semangat untuk sekolah. Apalagi hari ini sedang ujian akhir semester.


Hari ini ujian Matematika, mata pelajaran yang disukainya. Apalagi materi probabilitas. Pikiran nakalnya menerawang kekira ayahnya yang jahat itu kapan matinya. Ada peluang besar tidak. Tetiba ada telfon dari tantenya yang mengabarkan bahwa ibunya baru saja meninggal. "Tuhan... Kenapa tidak ayah yang Engkau ambil." Kelas mendadak ramai dengan tangis teman-temannya.


Gresik, 09.12.22

You may also like

  Teman literasi menyebut karyanya ini sebagai pentigraf, tapi ketika dibaca dengan teliti tulisan tersebut seperti sebuah catatan. Oleh kar...

Tidak ada komentar: