Tentang

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.
Minggu lalu saya kirim sebuah pentigraf yang berjudul "Saya Mau Masuk Surga" di fesbuk. Ada beberapa teman yang meberikan tanggapan baik dengan emoji atau komentar. Yang menarik buat saya adalah komentar dari senior saya di aliyah. Dia seorang dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya dan juga salah satu pengasuh di Pondok Tambakberas Jombang. Dia juga seorang penulis.
Dalam komentarnya menanyakan apakah cerita itu real atau khayalan. Jika real maka murid tersebut cerdas. Jika khayalan maka gurunya yang cerdas. Sayapun menjawab jika cerita tersebut hanya fiksiatau khayalan. Tanggapan selanjutnya yang membuat menarik. "Kalau begitu ini termasuk anekdot." Kata pak dosen yang kyai itu. Benarkah?
Dalam situs blogdivapress.com disebutkan bahwa setiap penulis mempunyai gaya menulis tersendiri. Gaya penulisan penulis merupakan sifat yang unik dan tidak dimiliki oleh yang lain. Memiiki gaya menulis yang khas, menjadi sesuatu yang biasa menjadi sesuatu yang istimewa dan khas.
Bagi penulis pemula, gayanya bisa dicari dengan cara 'menyontek' penulis-penulis besar terlebih dahulu. Seorang ghostwriter dan novelis dari Georgia, Joe Bunting pernah mengatakan - yang disunting oleh blogdivapress -, “Every great writer has imitated the great writers before him or her. To find your voice, you have to take on the voices of others.” Dalam ucapannya tersebut dikatakan bahwa penulis besar bermula dari meniru penulis sebelumnya. Termasuk dalam menirukan gayanya (voice).
Setelah itu dilanjutkan berlatih menulis dengan tekun. Setelah itu akan muncul dengan sendirinya gaya menulis itu. Saya sendiri pun tidak menyadari gaya menulis saya. Beberapa kali saat Pak Emcho mengatakan bahwa saya sudah mempunyai gaya, saya masih meraba-raba. Hingga akhirnya ada komentar teman saya tadi. Anekdot. Apakah ini gaya menulis?
Sebelum dibahas, saya unggah pentigraf tersebut.
Berdiri Mau Masuk Surga
Oleh Usdhof
Kali ini aku menyampaikan materi iman kepada hari akhir di kelas 6. Tentu Aku harus pandai-pandai menjelaskan sesuatu yang belum terjadi tersebut. Seperti halnya menjelaskan keberadaan surga dan neraka.
Aku pun jelaskan dengan perbandingan kondisi surga dan neraka dengan apa yang ada di dunia. Surga kuibaratkan sebuah taman dengan banyaknya pepohonan baik yang berbakal buah maupun tidak. Saat panas yang terik, akan merasakan kenyamanan jika berteduh di bawahnya karena memancarkan oksigen dari pori-pori dedaunannnya. Demikianlah sedikit gambaran surga.
Aku bertanya kepada anak-anak bahwa siapa yang mau masuk ke surga. Semua menjawab mau kecuali Mat Kodar. Aku ulangi sampai tiga kali, masih tetap saja sikapnya. Aku ganti dengan sebuah aksi jikalau mau masuk surga agar berdiri. Semua berdiri kecuali Mat Kodar. Aku dekati dia. Aku tanyakan apakah tidak mau ke surga, kok tidak berdiri. "Loh! Apa mau berangkat sekarang, Pak?", tanya Mat Kodar. Aku diam kecut.
Ngopi Giras
Manyar Gresik, 02/04/2021
Dalam pentigraf tersebut memuat cerita lucu dan konyol. Sebagai cerpen, maka tetap harus ada 4 komponen yaitu alur, latar, tokoh, dan tentunya tema dengan ada konflik yang terjadi. Tokohnya Aku dengan adanya konflik saat ada muridnya yang tidak menuruti arahannya di dalam kelas. Sedangkan cerita lain seperti anekdot dan lainnya tidak membutuhkan itu semua.
Dengan demikian apa gaya tulisanku? Tulisanku di sini yang saya maksudkan adalah dalam genre pentigraf. Pentigraf humor.
Minggu lalu saya kirim sebuah pentigraf yang berjudul "Saya Mau Masuk Surga" di fesbuk. Ada beberapa teman yang meberikan tanggapa...

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.
Kopi, hitam, tapi bisa memutihkan
BalasHapusDampak balutan warna putih...
BalasHapusApa pun namanya, pentigraf cerita yang praktis dan mengena. Saya pingin nulis lagi, tapi belum terampil nemu bagian penutup (efek kejut). Hehe....
BalasHapusLha judule gak nyambung. Menemukan gaya menulisnya mana. Hehehe
BalasHapussebenarnya pemantik...ketika teman saya menyebut pentigraf saya sebagai anekdot, apa ini termasuk gaya?
Hapus