Tentang

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.
Oleh : Moech. Mudhofar,S.Th.I.
Kecerdasan
spiritual tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Apalagi pada masa pandemi saat
ini. Pembiasaan spiritual yang terus dilakukan melahirkan suatu kebiasaan menjalankan
ibadah tanpa beban. Seseorang akan melaksanakan kewajibannya secara ikhlas.
Meski
tanpa tatap muka, dalam proses KBM tetap diharapkan mampu membangun interaksi
belajar mengajar secara baik. Interaksi belajar mengajar merupakan kegiatan
proses antara guru sebagai penyampai ilmu dan siswa sebagai penerimanya. Proses
tersebut tidak sekedar teacher center, tetapi harus ada pelibatan keaktifan siswa
sehingga tidak menimbulkan kepasifan siswa. Jika guru hanya ingin terus menerus
menyampaikan informasi keilmuwan tanpa melihat efek yang ditimbulkan dari
prosesnya pada diri siswa, maka bisa dikatakan tidak ada interaksi. (Soetomo,1993)
Microsoft
Teams sebagai sebuah hubungan digital
yang menyatukan percakapan, konten, dan aplikasi di satu tempat, diharapkan memungkinkan
guru untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang penuh semangat. Melalui
teams membangun ruang kelas kolaboratif
yang terhubung dalam komunitas pembelajaran profesional. fitur yang diberikan
selalu update perkembangannya. Bahkan untuk mengadakan rapat bisa mencapai
10.000 anggota (member). Bahkan dalam rapat, background bisa dibuat sama. Oleh
sebab itu pemilihan teams dalam Learning From Home perlu menjadi pertimbangan.
Sedangkan bagaimana kita memberikan motivasi melalui teams tersebut?
Di awal-awal
saya mencoba memakai absensi kehadiran siswa dengan form office 365. Pada form tersebut, saya
cantumkan dua item: a. pelaksanaan salat Subuh, b. pelaksanaan salat Dhuha. Kegiatan
ini dimulai pada bulan Agustus 2020.
Sedangkan pembiasaan kegiatan spiritual tersebut sendiri, tepatnya salat Dhuha,
sudah diadakan sejak dua tahun yang lalu pada setiap hari Jum’at sebelum masuk
kelas .
Tujuan saya memberikan form kehadiran seperti di atas adalah
sebagai sebuah proses pembiasaan dalam belajar, bersikap, dan berbuat. Proses
pembiasaan sebenarnya dimulai sejak kecil. Apalagi mengenai kewajiban salat.
Nabi saw menganjurkan orang tua untuk menyuruh anaknya salat pada umur 7 tahun.
Pada umur 10 tahun, orang tua boleh memukulnya jika anaknya tidak melaksakan
salat. Sebagaimana dalam hadis Nabi saw. artinya : “Suruhlah anak kalian shalat
ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat,
maka pukullah ia.”
Jika pembiasaan
ini tidak dilakukan oleh orang tua siswa saat anaknya
masik kecil, maka yang terjadi adalah ketidakdisiplinan anak dalam
melaksanakan salat saat remaja bahkan dewasa. Oleh karena itu tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Karena setiap orang pasti ada yang salah, dan sebaik-baik orang bersalah
adalah bertaubat. Lebih baik terlamat bertindak daripada tidak sama sekali.
Menilai Kemampuan
Spiritual
Dengan tujuan di atas bahwa motivasi spiritual harus tetap dilakukan bagaimanapun
juga, maka melalui form penilaian, saya buka dengan percakapan teks yang
mengajak siswa berfikir mengapa Allah memerintahkan kita salat. Dari segi matematis, gerakan salat saja bisa dihitung
secara logis. Gerakan yang membedakan antar rukun hanya pada posisi ruku dan
sujud. Secara matematis, jika ditarik garis lurus maka posisi ruku dan sujud
mempunyai derajat sudutnya. Ruku dengan sudut 90⁰, sedangkan sujud 45⁰. Sujud
dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu rakaat, maka jumlahnya 90⁰. Jadi dalam
satu rakaat akan membentuk sudut 180⁰. Sedangkan rakaat paling sedikit adalah
2. Maka dalam beribadah salat seseorang akan membentuk 2 x 180⁰ = 360⁰. Sebuah
bentuk lingkaran. Apa hikmahnya?
Sebuah kipas angin yang dinyalakan, akan membentuk
bayangan lingkaran. Jika mati, tidak ada bayangan apapun kecuali hanya bentuk
kipas. Oleh karena itu, sungguh Allah Maha Teliti dan Penghitung Yang Cermat,
kenapa salat janazah tidak ada ruku’ dan sujud. Subhanallah
Setelah berjalan sebulan, saya memberikan angket kemampuan spiritual kepada anak-anak. Angket saya bagikan ke tiga kelas dengan jumlah siswa 112 anak.
Akan tetapi yang merespon masih 83 anak. Meski demikian, saya anggap sudah
cukup mewakili.
Ada 10 pertanyaan yang saya ajukan dengan tiga
kelompok: a) melaksanakan salat karena perintah guru, perintah orang tua; b)
meninggalkan shalat dalam keadaan sakit, saat sibuk bermain, saat berlibur; c) melaksanakan shalat Dzuhur,
Asar, Maghrib, Isya, Subuh di akhir waktu. Skala yang digunakan adalah selalu, sering,
kadang-kadang, dan tidak pernah.
Sedangkan kriteria interpretasi skornya berdasarkan
interval:
Angka 0% – 24,99% = Kurang
Angka 25% – 49,99% = Cukup
Angka 50% – 74,99% = Baik
Angka 75% – 100% = Sangat Baik
Hasil yang
diperoleh rerata 52%. Artinya kemampuan menjalan ibadah salat masih pada level
3 yaitu baik. Poin terendah pada pertanyaan bahwa mereka meninggalkan salat
pada saat bermain yaitu 42%, cukup. Sedangkan poin tertinggi pada pertanyaan
bahwa akan melaksanakan salat jika diperintah ayah. Skornya 59% yaitu baik.
Dari paparan data di atas,
bisa disimpulkan bahwa perilaku anak-anak dalam melaksanakan ibadah salatnya pada level baik. Jadi bisa disimpulkan
motivasi dari sekolah masih kurang bisa membantu kemampuan anak di dalam
melaksanakan kewajiban ibadah. Dari sinilah, dirasa
sangat penting ada program pondok pesantren atau boarding school. Kemampuan
anak akan dibangun selama 24 jam dengan pembinanya yang cukup mumpuni.
Abla Bassat Gomma, Psikolog dan Motivator dari Lebanon,
menerangkan pentingnya stimulasi-stimulasi dari lingkungan anak-anak. Seorang
anak berinteraksi langsung dengan anggota keluarga dan menganggap tingkah laku
mereka sebagai contoh. Oleh karena itu orang tua harus berhati-hati dalam
bertindak. Begitu pula dengan siapa anak tersebut berteman. (Abla: 2012). Oleh
karena itu optimalisasi stimulus dari
keluarga maupun teman bermainnya patut menjadi pertimbangan kemampuan anak,
baik spiritual, intelegensi, maupun sosialnya. Sekolah hanya sebagai perantara.
Semoga bermanfaat!
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan
diri (kewajiban) mu sendiri,padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka
tidaklah kamu berpikir? (QS. Al Baqarah 2:44)
x
Oleh : Moech. Mudhofar,S.Th.I . Kecerdasan spiritual tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Apalagi pada masa pandemi saat ini. Pemb...

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.
Keceedasan ini sangat penting, dan seyogianya kita tidak mengabaikannya. Mantap, P Usdhof.
BalasHapus