Tentang

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.
Ruangan 5 x 4 meter itu bercat putih bersih. Tidak ada warna lain yang menghiasinya. Lampu 20 watt sebanyak empat buat menyinari ruangan.
Semua orang yang ada dalam ruangan itu aku mengenalnya. Ada emak dan istriku yang sedang menggondong anakku. Ada pula kakak-kakakku dari desa. Wajah mereka tak menampakkan kebahagiaan. Semuanya diam membisu seperti batu. Hanya sesekali ada suara sengguk yang keluar dari emak dan istriku.
"Jangan, Mas!" Pinta istri saat aku ingin kecup kening anakku yang ada dalam gendongannya. Itu pun aku baru akan melangkah mendekat. Jarak dengan istriku masih sekitar satu meter.
"Kenapa?" Tanyaku. Istriku tidak menjawab. Hanya gelengan kepala yang menandakan ketidakmauannya. Herannya wajahnya sembab. Pipinya basah oleh air mata. Sepertinya habis menangis lama. Aku pun tak tahu sebabnya.
"Aku kan ayahnya!" kataku penuh tanda tanya.
"Sejam yang lalu dia menangis menjadi-jadi, Mas! Uhuk uhuk," Jawab istriku dengan sesenggukan. "Khawatir nanti akan terbangun. Biar istirahat dulu."
Yah... Anakku masih berumur dua bulan kurang seminggu. Menangis bagi anak-anak merupakan satu satunya cara berkomunikasi dan berbahasa. Hanya saja orang di sekitarnya baru bisa menterjemahkannya saat ada kejadian yang mengiringinya. Entah menangisnya tadi apa ada kaitannya denganku.
"Plis... Tolonglah! Aku hanya pengen kecup keningnya. Sebab setelah pulang kerja, kecupan itu bisa meluruhkan capekku, Sayang! Aneh kan?"
Aku memang kerja di luar kota sebagai guru honorer. Sudah tiga belas tahun setiap hari aku jalani pulang pergi dengan jarak tempuh dua puluh lima kilometer sekali jalan. Memang masih ada yang lebih jauh lagi. Seperti di daerah pedalaman sana. Di daerah teman whatsapps grup literasiku di Kalimantan. Atau di tempat mengajar kakakku, Sorong Papua Barat. Dulu selepas kuliah, aku pernah bermain ke sana. Saya pernah ke sekolah kakakku. Jarak dengan rumahnya pun sejauh hari ini aku bekerja. Tapi berbeda dengan aku.
Yah... Berbeda. Jalan yang disusuri oleh teman maupun kakakku dipenuhi oleh sejuk pepohonan yang ada di kanan kiri jalan. Jalanan yang tak begitu ramai pula. Sedangkan aku? Setiap hari aku harus berteman dengan debu knalpot truk-truk besar. Mulai dari yang beroda empat sampai delapan belas. Di samping itu mikrolet umum juga akan melewatiku dengan jalannya yang begitu kesit. Uwesss.... kayak kilat menerobos padatnya lalu lintas. Katanya demi mengejar setoran.
Jalan yang aku lalui disebut kawasan tengkorak. Tak ayal dikarenakan sering banyak memakan korban. Apalagi sebelum ada pelebaran jalan sekitar tahun 2013. Inilah Jalan Kalianak yang berada di Kota Surabaya dengan volume kendaraan yang cukup padat setiap harinya.
Suatu kali aku harus mengejar pengendara motor. Seorang cewek muda. Dia melaju agak kencang dari pada aku. Niatku mengejarnya hanya untuk mengingatkan agar berhati-hati. Di depan jalannya menyempit. Sedangkan di samping kanannya berjajar barisan truk trailer.
Benar saja. Cewek itu tersungkur setelah ban sepeda depannya terperosok dalam lobang. Tubuhnya jatuh ke kanan tepat di tengah kolong truk.
"Ah...!" Mata tidak kuat melihat. Hati terasa menjerit. Ban belakang truk itu melindas kepalanya. Aku terpaku. Aku terus melajukan motorku dengan pelan. Aku tegakan untuk meninggalkannya. "Sudahlah... Yang penting aku sudah berusaha mengejarnya untuk mengingatkan. Dan juga sopir truknya tidak lari," pikirku setengah galau membela diri.
"Lalu setelah kecup keningnya, apa terus?" Pertanyaan istriku membangunkan lamunanku. Untungnya bukan aku yang jadi korban lakalantas itu.
"Apa?" tanyaku memintanya mengulang.
"Setelah kecup anakmu, apa yang kamu lakukan?"
"Ya...kecup dahimu dong..." Balasku sambil tertawa. Istri senyum tersipu. Sedangkan emakku yang ada di sampingnya seperti tidak mendengar percakapan kami. Pandangan sendu sedan melihat ke depan. Aku juga heran kenapa ada emak di sini. Juga kedua mertuaku serta kakakku juga.
Aku sampaikan maaf kepada istriku jika selama ini belum bisa memenuhi harapannya. Seperti punya rumah sendiri. Mobil sendiri sehingga bisa bertamasya keluar kota tiap tahun. Bisa menginap di hotel lagi. Aku belum mampu. Apalagi sampai hari ini aku belum juga lolos mengisi formasi PPPK guru. Belum ada kepastian nasib!
Aku gak pernah kecewa Mas. Tidak! kata istri.
Aku tatap matanya. Sungguh istriku benar-benar qurrata ayun, bola matanya yang bisa menyejukkan hati siapapaun yang melihatnya. Aku jadi ingat lagunya Maher Zein Kuucapkan Janji Suci.
Aku bersyukur kau di sini Kasih
Di kalbuku mengiringi
Dan padamu ingin kusampaikan
Kau cahaya hati
Dulu kupalingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir membasuh segalanya
Oh inilah janjinku kepadamu
Istriku sosok wanita salehah yang memancarkan kesejukan di hatiku. Ulama Mesir, Yusuf Qaradawi pernah menulis dalam bukunya, al Iman wa al Hayah, bahwa kerelaan seseorang atas suatu masalah adalah awal dari keteanangan diri yang bisa memancarkan kebahagiaan. Istriku rela dengan apa yang diterimanya saat ini.
Kerelaan istri ini menular pada diriku. Perasaan tersebut menyebabkan aku bisa ikut senang saat melihat teman-temanku telah meraih kesuksesan. Seperti yang aku lihat di whatsapp group yang ikuti. Ada beberapa temanku satu almamater di madrasah aliyah masuk dalam kabinet ormas terbesar di Indonesia. Ada seniorku. Seangkatan, sekelas, seasrama juga ada. Juga ada yuniorku. Belum lagi ada yang menjadi dosen, penyuluh agama, hakim, pengusaha dan tentunya juga ada yang menjadi kyai sebuah pondok besar di Malang. Mereka memberikan warna pikiranku. Maka benarlah sebuah kalimat "laa takhtakir man duunaka, falikulli syai'in maziyah" yang artinya janganlah kamu menghina orang yang ada di bawahmu. dikarenakan setiap orang itu mempunyai keistimewaan tersendiri.
"Alhamdulillah, Doaku agar mendapatkan istri yang qurrota ayun dikabulkan, aku balas ucapannya.
Aku kembali ingin mendekat. Aku ingin menciumnya ah.
Jangan Mas! kata istri. Nanti bangun. Bersamaan itu keluar butiran kecil air dari kelopak matanya.
Ada apa menangis? tanyaku sambil lalu. Aku tak menghiraukan larangannya. Aku terus melangkah maju. Aku majukan bibirku di keningnya. Tapi tak menyentuhnya. Bahkan tangan istri yang menggendongnya pun kulewati. Kembali aku tarik kepalaku dan menciumnya kembali. Lagi-lagi tidak menyentuhnya. Seperti ada ruang hampa. Bibirku menembus dan melewati keningnya.
Aku tatap istriku. Kembali dia mengeluarkan butiran air dari kelopak matanya. Tangannya cepat-cepat menghapusnya. Dia berkata, Mas! Kamu pasti ingat. Siang itu kamu minta izin untuk menjenguk temanmu yang terkena serangan stroke di Surabaya. Aku sebenarnya mencegahmu karena aku lihat kamu capek setelah bekerja di pagi itu. Yah seperti biasa. Kamu tetap aja berangkat. Dan saat pulang itulah kamu mengalami kecelakaan. Kepalamu membesar dua kali lipat hingga mata kanan terlihat hampir keluar. Setiap tiga puluh menit kamu mengeluarkan darah dari mulut seember.
Aku raba kepalaku. Basah penuh darah. Tulang pipi kiriku remuk. Rahang bawahku lepas. Suaraku menjadi parau seperti ada yang menahan pitaku. Aku tak berani melihat kakiku, Pasti banyak darah karena tidak bisa digerakkan.
Mas! Kembalilah istirahat! Biar cepat pulih. Kali ini permintaan istriku tak berani aku bantah. Percuma aku mencium kening anakku jika tidak bisa menyentuhnya.
Aku kembali berbaring dengan kaki dibalut gips kemudian ditinggikan. Kepala diikat perban. Dadaku ditancapi kabel-kabel pendeteksi aktifitas jantung. Dan aku dengar emakku berbisik, Kembalilah Nak! Istri dan anakmu masing membutuhkanmu. Kembali ya? Air mata emak pun menetes deras bak banjir bandang setelah menahannya beberapa waktu. Air itu hingga membasahi keningku, pipiku, hingga mengalir merembes masuk ke dalam mulutku.
"Terima kasih, Emak. Aku segera akan kembali. Sungguh kasihmu sepanjang masa," kataku pelan. Hanya Tuhan yang mendengarnya.
Gresik, 16/01/2021
Ruangan 5 x 4 meter itu bercat putih bersih. Tidak ada warna lain yang menghiasinya. Lampu 20 watt sebanyak empat buat menyinari ruangan. ...

Merekam jejak-jejak menjadi sebuah catatan buat generasi yang akan datang.