/
0 Comments





Pentigraf

Oleh Usdhof


Saat itu jarum jam di rumah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Aku masih menunggu kabar keberangkatan suamiku ke Pontianak untuk urusan bisnisnya. Aku tidak bisa mengantar ke bandara karena aku terbaring lemah di atas dipan. Aku terkena kanker payudara stadium 3. Di samping itu, ini urusan pekerjaan suami. Sudah menjadi kebiasaannya terbang ke berbagai daerah dengan naik pesawat. "Sayang! Aku berangkat ya...," Kabar WA dari suamiku. Kuhanya bisa berdoa semoga selamat sampai tujuan. Naik pesawat udara bukan seperti naik kendaraan di darat maupun laut. Tidak ada tempat berlindung saat terjadi kecelakaan.


Ada notifikasi WA masuk dari HP-ku. Temanku mengabarkan ada kecelakaan pesawat dari Jakarta ke Pontianak. Cepat-cepat langsung aku hubungi suamiku. Tidak ada jawaban setelah berkali-kali kutelpon. Hanya nada sambung _"Ketaman Asmara"_ yang kudengar. Beberapa menit kemudian nada itu lenyap. Ah apa ikut tertelan panasnya api ledakan itu!


Keluargaku pun memutuskan mengadakan doa bersama setelah maghrib. Kumasih menunggu kabar suamiku dari pihak maskapai. Meski di dalam daftar penumpang suamiku tidak ada. Aku meyakini ada suamiku di sana karena _take off_ dan tujuan pesawatnya sama dengan yang disampaikan suamiku. Apa suamiku memakai KTP palsu? Setelah beberapa lama, aku liat no WA suami aktif. Aku telusuri keberadaan hpnya dengan fitur _find my device_. Karena akun google HP-nya memakai milikku. Terlacak HP itu ada di sebuah hotel di Bali. Aku _screenshot_ peta tersebut. Aku kirim ke suamiku. "Mas! Darah dari payudaraku menetes deras. Kau jatuhkan aku dari ketinggian 250 kaki." Aku matikan HP. Entah ada apa besok pagi saat kubangun menjemput mentari kelabu.


Surabaya, 14/01/2021

You may also like

Pentigraf Oleh Usdhof Saat itu jarum jam di rumah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Aku masih menunggu kabar keberangkatan suamiku ke Pontianak u...

Tidak ada komentar: